KEUTAMAAN BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAH

Berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya memiliki keutamaan, keistimewaan, dan pahala yang besar. Berdasarkan penelusuran dalil-dalil secara normatif dan yang dibenarkan oleh fakta historis, maka sebagian keutamaan tadi dapat kita kemukakan sebagai berikut:

  1. Terhindar dari perselisihan yang tercela dan yang menjauhkan dari agama

Allah berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴿٤٦﴾

“Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfal: 46)

Nabi bersabda:

“Siapa yang hidup sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak.” Lantas bagaimana jalan keluarnya? Nabi terus melanjutkan sabdanya:

»فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّـينِ. عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ. وَإِيَّاكُمْ والأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ. فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ «

“Maka kalian harus berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan mendapat hidayah, gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhilah setiap perkara baru, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah sesat.” (Shahih, lihat Shahihul Jami’: 2549, Hadits ‘Irbadh ibn Sariyah dalam Sunan Tirmidzi dan Ibnu Majah)

  1. Selamat dari perpecahan yang ancamannya adalah neraka

Nabi bersabda:

»إِنَّ أَهْلَ الْكِتابِ تَفَرَّقوا في دِينِهِمْ على ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّة، وَتَفْتَرِقُ هٰذِهِ الأُمَّةُ على ثَلاثٍ وَسَبْعِينَ كُلُّها في النّارِ إِلا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ «

“Sesungguhnya ahli kitab itu telah berpecah menjadi 72 millah (sekte, golongan), dan umat (Islam) ini akan berpecah menjadi 73 golongan; semuanya di neraka kecuali satu golongan yaitu al-jama’ah.” (Hadits iftiraqul ummah dari Mu’awiyah , Anas , dan Ibnu Umar diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi, Hakim dll)

Yang dimaksud dengan jama’ah adalah sunnah dan orang-orangnya sebagaimana dalam satu lafazh:

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Yaitu apa yang ada padaku dan apa yang ada pada para sahabatku.” (HR Tirmidzi: 2711, Hakim)

  1. Mendapatkan hidayah dan selamat dari kesesatan

Nabi berkhutbah pada waktu haji Wada’ :

»يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّـي قَدْ تَرَكْتُ فِـيْكُمْ مَا إِنْ اعْتَصَمْتُـمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَداً: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِـيَّهِ «

“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya pasti kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. al-Baihaqi: 20779 dll dari Ibnu Abbas , Shahih al-Targhib: 41)

Sedangkan Lafazh Hakim (323) adalah:

»قَدْ يَئِسَ الشَّيطانُ بِأَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ، وَلٰكِنَّهُ رَضِيَ أَنْ يُطاعَ فِيما سِوى ذٰلِكَ ممّا تُحاقِرونَ مِنْ أَعْمالِكُمْ، فاحْذَروا يا أَيُّها النّاسُ، إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ ما إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبداً، كِتابَ الله وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (صلَّى الله عليهِ وآلِهِ وسلَّم). إِن كُلَّ مُسْلِمٍ أَخُ الْمُسْلِمِ، الْمُسْلِمون إِخْوَةٌ، ولا يَحِلُّ لامْرِىءٍ مِنْ مالِ أَخِيهِ إِلا ما أَعْطَاهُ عَنْ طِيْبِ نَفْسٍ، وَلا تَظْلِمُوْا، وَلا تَرْجِعُوْا مِنْ بَعْدِي كُفّاراً يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقابَ بَعْضٍ«.

“Setan telah berputus asa untuk disembah di negerimu, akan tetapi dia rela ditaati dalam hal kurang dari itu dari amalan-amalanmu yang kamu remehkan. Maka waspadalah wahai manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang kalau kalian berpegang teguh dengannya pasti kalian tidak akan sesat selamanya; Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya . Sesungguhnya setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya. Kaum muslimin adalah bersaudara, tidak halal bagi seseorang dari harta saudaranya kecuali sesuatu yang ia berikan kepadanya dengan suka rela, janganlah kalian berbuat aniaya, dan janganlah sesudahku kalian kembali menjadi kafir yang saling membunuh.”

  1. Masuk ke dalam golongan Rasulullah

Hadits Anas ; (HR Bukhari: 4943) dalam kisah 3 orang yang datang kepada rumah Nabi untuk menanyakan ibadah Nabi , lalu menganggap ibadah Nabi biasa-biasa dan mereka memahami bahwa hal itu sangat wajar bagi Nabi karena beliau telah diampuni seluruh dosanya dan dijamin masuk surga. Maka mereka memutuskan untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah -melebihi ibadah Nabi – agar mereka bisa masuk surga. Maka Nabi mengatakan:

« مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي».

“Barangsiapa tidak menyukai sunnahku maka ia bukan dari golonganku.”

ِAbu Ayyub juga mengatakan (HR. Ibnu Asakir):

« كَانَ يَرْكَبُ الْحِمَارَ، وَيَخْصِفُ النَّعْلَ، وَيُرَقِّعُ الْقَمِيصَ، وَيَلْبَسُ الصُّوفَ وَيَقُولُ: مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتي فَلَيْسَ مِني »

“Rasulullah itu dulu mengendarai keledai, menjahit sandal, menambal kemeja dan memakai kain shuf (wol kasar) dan berkata: “Barangsiapa tidak menyukai sunnahku maka ia bukan dari golonganku.” ( Al-Albani berkata dalam Silsilah al-Shahihah (2130): “Shahih karena ada saksi yang sangat kuat”, yaitu riwayat Mursal shahih dari Hasan Bashri, ia berkata:

لَمَا بَعَثَ اللهُ مُحَمَّدًاقَالَ : هَذاَ نَبِيِّي هَذَا خِيَارِيْ، اِئْتَسَوْا بِهِ وَخُذُوْا فِيْ سُنَّتِهِ وَسَبِيْلِهِ، لمَ ْيَكُنْ تُغْلَقْ دُوْنَهُ الْأَبْوَابُ، وَلاَ يَقُوْمُ دُوْنَهُ الْحَجَبَةُ، وَلاَ يُغْدَى عَلَيْهِ بِالْجِفَانِ وَلاَ يُرَاحُ عَلَيْهِ بِهَا، يَجْلِسُ عَلىَ اْلأَرْضِ، وَيَأْكُلُ طَعَامَهُ بِاْلأَرْضِ، وَيَلْبَسُ اْلغَلِيْظَ، وَيَرْكَبُ الْحِمَارَ، وَيُرْدِفُ بَعْدَهُ، وَيَلْعَقُ أَصَابِعَهُ، وَكاَنَ يَقُوْلُ : مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّي.

“Ketika Allah mengutus Muhammad Dia berfirman: “Inilah Nabi-Ku, inilah orang pilihan-Ku, berteladanlah dengannya, dan ambillah sunnah dan jalannya; untuk menemuinya tidak ditutup pintu-pintiu, dan tidak dikelilingi oleh pengawal, tidak dilayani makan siangnya dengan piring-piring, dan tidak dilayani makan malamnya denganya pula. Beliau duduk di atas tanah dan memakan makanannya di atas tanah, memakai kain yang kasar, menaiki himar, membonceng orang di belakangnya, menjilati tangannya (setelah makan) dan beliau bersabda: “Barangsiapa tidak menyukai sunnahku maka ia bukan dari golonganku.” (Lihat pula Mushannaf Abdur-Razzaq: 19555, Sunan al-Baihaqi: 20044. Semoga Allah membalas kebaikan Syekh Khalid bin Abdillah al-Mushlih yang telah membantu menjelaskan kata-kata sulit dalam hadits ini)

Hakim meriwayatkan ucapan Anas bahwa: Nabi memboncengnya di belakangnya, meletakkan makanannya di atas tanah, mendatangi undangan budak sahaya (yang sudah dimerdekakan), dan mengendarai khimar.” (Diriwayatkan Thabrani dengan sanad hasan dari Ibnu Abbas: “Beliau duduk di atas tanah, makan di atas tanah,….dan mendatangi undangan budak sahaya (yang sudah dimerdekakan) atas hidangan roti dari beras sya’ir.” (Musnad Imam Abu Hanifah: 1/250, Syarah Musnad Abi Hanifah: 1/631)

Dalam shahih Ibnu Khuzaimah ada Bab (150 ) berjudul “Bab ancaman keras dalam meninggalkan mengusap kedua sepatu karena ketidak-senangan terhadap sunnah.”

  1. Lepas dari jalan-jalan setan

Allah berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴿١٥٣﴾

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)

Hadits Ibnu Mas’ud , Ia berkata:

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ يَوْماً خَطّاً، وَخَطَّهُ لَنَا عَاصِمٌ ـ فَقَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللهِ، ثُمَّ خَطَّ خُطُوْطاً عَنْ يَمِيْنِ الخَطِّ، وَعَنْ شِمَالِهِ فَقَالَ: «هَذِهِ السُّبُلُ، عَلىَ كُلِّ سَبِيْلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ» ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ اْلآيَةِ: {وَأنَّ هَذَا صِراطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ} لِلْخَطِّ اْلأَوَّلِ {وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ} لِلْخُطُوطِ {فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ}.

“Rasulullah pernah membuat garis lurus –Ashim membuat garis itu untuk kita- lalu beliau bersabda: “Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau membuat garis-garis dari samping kanan dan kirinya lalu bersabda: “Ini adalah jalan-jalan, pada setiap jalan ada setan yang menyeru kepadanya.” kemudian beliau membaca ayat [وَأنَّ هَذَا صِراطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ] untuk garis yang pertama, dan membaca: [وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ] untuk garis-garis tadi, « Karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.)) ((HR. Baihaqi: 11069, Ahmad, Darimi, Nasa’i, dll)

  1. Terealisasinya Syari’at dan agama dengan benar

Hadits Aisyah (HR. Ahmad: 24208), Sa’ad ibn Hisyam ibn ‘Amir berkata: Saya mendatangi Aisyah lalu saya katakan:

يَا أُمَّ اْلمُؤْمِنِيْنَ أَخْبِرِيْنِي بِخُلُقِ رَسُوْلِ الله

Leave a Reply